Teori Agenda Setting



Nama  : Melianus Deni Bau
NIM    : 2015230034
Tugas  : Komunikasi Politik

TEORI AGENDA SETTING
Pusat dari studi mengenai komunikasi massa pastilah media massa. Menurut Onong Uchjana Effendy ada beberapa fungsi dari komunikasi, hal ini juga sesuai dengan fungsi media sebagai bagian dari komunikasi massa, sebagai berikut: 
  • Menyampaikan informasi (to inform)
  • Mendidik (to educate)
  • Menghibur (to entertain)
  • Mempengaruhi (to influence) 
Didalam bukunya, Apriadi Tamburaka menceritakan bahwa gagasan awal agenda setting pertama kali ditulis oleh Norton Long dalam artikelnya pada tahun 1958. Didalam artikel tersebut Long menjelaskan, dalam beberapa hal, surat kabar adalah penggerak utama dalam menentukan agenda daerah. surat kabar memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dibahas oleh sebagian orang, apa pendapat sebagian besar orang tentang fakta yang ada, dan apa yang dianggap sebagian besar orang sebagai cara untuk menangani masalah.

Sedangkan Kurt Lang dan Gladys Engel Lang pada tahun 1959 juga menghasilkan pernyataan awal tentang penentuan agenda. Mereka memberikan pernyataan bahwa, media massa memaksakan perhatian pada isu-isu tertentu. Media massa membangun citra publik tentang figur-figur politik. Media massa secara konstan menunjukkan apa yang hendak dipertimbangkan, diketahui dan dirasakan individu-individu dalam masyarakat. 

Bernard Cohen (1963) meski tidak secara spesifik menggunakan istilah agenda setting, namun sering kali dipuji karena kembali mendefenisikan ide Lipman ke dalam teori agenda agenda setting. Pers lebih penting daripada sekedar penyedia informasi dan opini.  Dia mengatakan “Barangkali mereka tidak terlalu sukses dalam menyuruh apa yang dipikirkan seseorang, tetapi mereka biasanya sukses menyuruh orang mengenai apa yang seharusnya mereka pikirkan.” (Apriadi Tamburaka, 2012).

Teoretisi utama agenda setting adalah Maxwel McCombs dan Donald L. Shaw pada tahun 1968. Mereka menuliskan bahwa audience tidak hanya mempelajari berita-berita dan hal-hal lainnya melalui media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting diberikan pada suatu isu atau topik dari cara media massa memberikan penekanan terhadap topik tersebut. Misalnya, dalam merefleksikan apa yang dikatakan oleh para kandidat dalam suatu kampanye pemilu, media terlihat menentukan mana topik yang penting. Dengan kata lain, media massa menetapkan agenda kampanye tersebut. Kemampuan untuk mempengaruhi perubahan kognitif individu ini merupakan aspek terpenting dari kekuatan komunikasi massa. Dalam hal kampanye, teori ini mengamsumsikan bahwa jika para calon pemilih dapat diyakin akan pentingnya suatu isu maka mereka akan memilih kandidat atau partai yang diproyeksikan paling berkompeten dalam menangani isu tersebut (Syaiful Rohim, 2009).



TEORI AGENDA SETTING

Para peneliti telah lama mengetahui bahwa media memiliki kemampuan untuk menyusun isu-isu bagi masyarakat. Salah satu penulis awal yang merumuskan gagasan ini adalah Walter Lippmann, yangmerupakan seorang jurnalis Amerika Serikat. Lippmann mengambil pandangan bahwa masyarakat tidak merespon pada kejadian sebenarnya dalam lingkungan, tetapi pada gambaran dalam kepala kita (media), yang dia sebut dengan lingkungan palsu. Karena lingkungan yang sebenarnya terlalu besar, terlalu kompleks, dan terlalu menuntut adanya kontak langsung (Stephen W Littlejohn dan Karen A Foss, 2009).

Teori agenda setting merupakan teori komunikasi massa, yang melihat efek media massa terhadap masyarakat yang mengkonsumsi media tersebut. Dimulai dengan menyaring berita, informasi, tulisan atau artikel secara selektif oleh gatekeepers, mana hal yang harus diinformasikan mana hal yang harus disembunyikan. Setiap peristiwa atau isu yang dimunculkan, akan diberi bobot tertentu dalam penyajiannya kepada masyarakat.

Fungsi penyusunan agenda telah dijelaskan oleh Donal Shaw, Maxwell McCombs dan rekan-rekan mereka yang menulis bahwa, ada bukti besar yang telah dikumpulkan bahwa penyunting dan penyiar memainkan bagian yang penting dalam membentuk realitas sosial kita ketika mereka menjalankan tugas keseharian mereka dalam memilih dan menampilakan berita. Pengaruh media massa ini adalah kemampuan untuk memengaruhi perubahan kognitif antarindividu untuk menyusun pemikiran mereka, telah diberi nama fungsi penyusunan agenda dari komunikasi massa. Disini terletak pengaruh paling penting dari komunikasi massa, kemampuannya untuk menata mental dan mengatur dunia kita bagi kita sendiri. Singkatnya, media massa mungkin tidak berhasil dalam dalam memberi kita apa yang harus dipikirkan, tetapi mereka secara mengejutkan berhasil dalam memberitahu kita tentang apa yang harus kita pikirkan. Atau dengan kata lain, penyusunan agenda membentuk gambaran atau isu yang penting dalam pikiran masyarakat (Stephen W Littlejohn dan Karen A Foss, 2009).

Berdasarkan paragraf diatas dapat disimpulkan betapa kuatnya pengaruh media terhadap apa yang difikirkan oleh audience-nya. Mungkin media belum tentu berhasil mengubah sikap audience-nya, tapi media akan cukup memengaruhi apa yang difikirkan. Dengan kata lain, media mampu memengaruhi atau justru menggiring persepsi audience-nya.

Teori Agenda Setting yang ditemukan Maxwell McCombs dan Donal L. Shaw sekitar tahun 1968 ini berasumsi bahwa media memiliki kekuatan untuk mentransfer isu untuk mempengaruhi agenda publik. Khalayak akan menganggap isu tersebut penting apabila media menganggap isu itu penting juga (Griffin dalam Syaiful Rohim, 2009).
Stephen W. Littlejohn mengatakan, agenda setting beroperasi dalam tiga bagian sebagai berikut:
  • Agenda media itu sendiri harus diformat. Proses ini akan memunculkan masalah bagaimana agenda media itu terjadi pada waktu pertama kali
  • Agenda media dalam banyak hal memengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau kepentingan isu tertentu bagi publik. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan, seberapa besar kekuatan media mampu memengaruhi agenda publik dan bagaimana publik itu melakukannya.
  • Agenda publik memengaruhi atau berinteraksi kedalam agenda kebijakan. Agenda kebijakan adakah pembuatan kebijakan publik yang dianggap penting bagi individu.
DIMENSI AGENDA SETTING 

Seperti disampaikan diatas, bahwa agenda setting beroperasi dalam tiga bagian, berikut adalah imensi-dimensi dari tiga bagian agenda setting tersebut: 

AGENDA MEDIA 
  • Visiabilitas (visibility), yaitu jumlah dan tingkat penonjolan berita yang dapat dilihat dari letak berita.
  • Tingkat penonjolan bagi khalayak (audience salience), yakni relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak.
  • Valense (valence), yakni menyenangkan atau tidaknya cara pemberitaan bagi suatu berita.

AGENDA PUBLIK 
  • Keakraban (familiarity), yakni derajat kesadaran khalayak akan topik tertentu. 
  • Penonjolan pribadi (personal salience), yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi.
  • Kesenangan (favorability), yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topik berita.

AGENDA KEBIJAKAN
  • Dukungan (support), yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
  • Kemungkinan kegiatan (likelihood of action), yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan.
  •  Kebebasan bertindak (freedom of action), yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah. 
 Contoh Kasus
Telah kita ketahui bersama bahwa sampai sekarang kasus mirna masih berada didalam benak publik bahkan masih bersarang didalam fikiran mereka, karena kasusnya yang begitu viral dan dapat membentuk persepsi yang  beragam, membuat publik bertanya-tanya. Siapakah sebenarnya yang menjadi tersangka dan siapa yang menjadi korban. Kasus ini seakan dijadikan sebagai pion untuk meningkatkan rating suatu media dan kasus ini bisa dikatakan sebagai agenda setting media. teori ini menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.
Jika dikaji melalui teori ini kita sadari bahwa publik sudah diberikan stimulasi agar terpengaruh terhadap informasi yang diberikan atau disuguhkan oleh media kepadanya. Seperti contohnya kasus kopi mirna yang sempat menjadi viral di mata publik. Nah pertanyaanya kenapa kasus ini bisa begitu viral dimata publik ? padahal kasus tersebut hanya  melibatkan 2 kelompok yang berbeda yang menuntut kebenaran, lalu kenapa harus menjadi konsumsi publik ?
Jika menganalisis dari teori agenda setting, diindikasikan adanya suatu kepentingan dari media tersebut, bisa dikarenakan pengalihan isu, untuk menaikkan rating, adanya kepentingan media, bisa jadi karena yang terkena kasus memiliki hubungan baik dengan media. Semuanya  bisa terjadi. Maka dari itu dijadikannya kasus ini menjadi konsumsi publik yang dapat meningkatkan rating media.
Kenapa hal ini dijadikan suatu konsumsi publik ?, kenapa bukan berita amnesty pajak yang justru lebih bermanfaat bagi publik yang dijadikan suatu headline news ?
bisa dikatakan karena kasus ini dirasa cukup menarik yang memiliki news value yang cukup baik dan dapat dijadikan sebagai tombak untuk kepentingan media. Dan dapat kita lihat dari sisi publik yang saat ini gemar mengkonsumsi berita-berita yang berbau pembunuhan, kekerasan dsbnya.



Komentar